Rabu, 18 Oktober 2017
Ketua GOLKAR' dari masa ke masa :
DJUHARTONO 20 Oktober 1964 - Oktober 1965
Sekretariat Bersama Golongan Karya 20 Oktober 1964 memilih Djuhartono sebagai Ketua Pertama
SUPRAPTO SUKOWATI 1965 - 1973
Menjabat sebagai ketua hasil Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) 1 Desember 1965
AMIR MOERTONO 1973 - 1983
Jenderal Indonesia selama rezim Orde Baru Soeharto yang menjadi terkenal setelah menjabat sebagai Ketua Golkar dari tahun 1973 hingga tahun 1983.
SOEDHARMONO 1983 - 1988
Sebagai Ketua, Sudharmono banyak melakukan inspeksi keliling cabang Golkar di daerah. Sudharmono juga menggerakan anggota Golkar untuk mendapatkan lebih banyak pemilih Golkar, hasilnya suara Golkar meningkat dari 64% menjadi 72% pada Pemilu 1987
WAHONO 1988 - 1993
Pernah menjabat sebagai Ketua MPR pada masa orde baru dan menjadi Gubernur Jawa Timur periode 1983 - 1988
HARMOKO 1993 - 1998
Sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah “Temu Kader". Terakhir, ia menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999
AKBAR TANJUNG 1998 - 2004
Penulis Buku The Golkar Way : Survival Partai Golkar Di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi.
Pernah belajar di Universitas Gadjah Mada dan mendirikan Akbar Tanjung Institute.
JUSUF KALLA 2004 - 2009
Pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5), lalu mengundurkan diri sebagai menteri karena maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono
ABURIZAL BAKRIE 2009 - 2016
Sebagai anggota partai Golkar, pernah mencoba untuk menjadi calon presiden partai Golkar pada tahun 2004. Kemudian menjabat sebagai anggota Dewan Penasehat DPP Partai Golkar periode 2004-2009.
SETYA NOVANTO 2016 - sekarang
Pada Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar 2016, Setya Novanto mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Golkar. Munaslub akhirnya mengesahkan Setya Novanto secara resmi sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar 2016-2019.
Happy Anniversary Golkar!
#53thGolkar
Golkar akan memasuki usia yang 53 tahun pada 20 Oktober 2017 usia yang sudah tidak muda namun belum juga tua. Sudah saatnya Golkar lakukan refleksi mendasar dan lakukan lompatan transformatif agar menjadi organisasi politik yang dapat mengantisipasi zaman dan mengatasi problematika masa depan.
Politik Indonesia masih terus berada dalam dinamika konsolidasi demokrasi sebuah upaya terus menerus yang dilakukan ibarat mendorong batu ke atas ala Syshipus sang Dewa Yunani, batu menggelinding kembali ke bawah setelah bersusah payah di dorong ke puncak bukit. Ada kemajuan dan pencapaian namun bisa dalam seketika hancur lebur.
Di satu sisi kemajuan konsolidasi demokrasi terjadi dalam pembebasan dan pemberdayaan publik dalam menyuarakan aspirasi dan melakukan kegiatan politik dalam arena medan politik nasional maupun daerah dalam suasana kebebasan. Sisi lainnya kehidupan politik nasional Indonesia begitu kelam dengan kasus-kasus politik dan hukum menerpa keras, yaitu; kolusi, nepotisme dan korupsi makin merajalela.
Golkar harus segera melepaskan diri dari problem kelam politik nasional dan segera berangkat dengan gagasan dan karya nyata baru yang dapat menyelesaikan permasalahan publik Indonesia. Golkar sebagai Partai politik jangan hanya sibuk menyiapkan pemenangan-pemenangan pemilu namun juga harus membuat rencana sistematis rekrutmen dan pengkaderan anggota sebagai investasi politik masa depan.
Golkar harus laksanakan gagasan dan kerja nyata yang sudah di tuliskan dalam Visi Negara Kesejahteraan 2045 antara lain; pertumbuhan ekonomi yang tinggi berkualitas, pengurangan pengangguran, pemerataan pembangunan dan pendapatan, kebijakan fiskal yang inklusif dan akomodatif, pembangunan infrastruktur yang menggerakkan ekonomi real, revitalisasi industri manufaktur, revitalisasi industri pertanian, kehutanan dan perikanan, pengelolaan energi, sumber daya alam dan mineral, mengembangkan perdagangan yang kompetitif, membangun sektor keuangan yang mendukung sektor riil dan meningkatkan kemampuan IPTEK dan Inovasi.
Golkar akan memasuki usia yang 53 tahun pada 20 Oktober 2017 usia yang sudah tidak muda namun belum juga tua. Sudah saatnya Golkar lakukan refleksi mendasar dan lakukan lompatan transformatif agar menjadi organisasi politik yang dapat mengantisipasi zaman dan mengatasi problematika masa depan.
Politik Indonesia masih terus berada dalam dinamika konsolidasi demokrasi sebuah upaya terus menerus yang dilakukan ibarat mendorong batu ke atas ala Syshipus sang Dewa Yunani, batu menggelinding kembali ke bawah setelah bersusah payah di dorong ke puncak bukit. Ada kemajuan dan pencapaian namun bisa dalam seketika hancur lebur.
Di satu sisi kemajuan konsolidasi demokrasi terjadi dalam pembebasan dan pemberdayaan publik dalam menyuarakan aspirasi dan melakukan kegiatan politik dalam arena medan politik nasional maupun daerah dalam suasana kebebasan. Sisi lainnya kehidupan politik nasional Indonesia begitu kelam dengan kasus-kasus politik dan hukum menerpa keras, yaitu; kolusi, nepotisme dan korupsi makin merajalela.
Golkar harus segera melepaskan diri dari problem kelam politik nasional dan segera berangkat dengan gagasan dan karya nyata baru yang dapat menyelesaikan permasalahan publik Indonesia. Golkar sebagai Partai politik jangan hanya sibuk menyiapkan pemenangan-pemenangan pemilu namun juga harus membuat rencana sistematis rekrutmen dan pengkaderan anggota sebagai investasi politik masa depan.
Golkar harus laksanakan gagasan dan kerja nyata yang sudah di tuliskan dalam Visi Negara Kesejahteraan 2045 antara lain; pertumbuhan ekonomi yang tinggi berkualitas, pengurangan pengangguran, pemerataan pembangunan dan pendapatan, kebijakan fiskal yang inklusif dan akomodatif, pembangunan infrastruktur yang menggerakkan ekonomi real, revitalisasi industri manufaktur, revitalisasi industri pertanian, kehutanan dan perikanan, pengelolaan energi, sumber daya alam dan mineral, mengembangkan perdagangan yang kompetitif, membangun sektor keuangan yang mendukung sektor riil dan meningkatkan kemampuan IPTEK dan Inovasi.
Langganan:
Postingan (Atom)